Juara 2 Lomba CitRa (Cipta Cerita)

Run Out Kwangya

Naila Hanaliyana, X IPA 4.

Hutan lebat dengan banyak daerah basah, hitam kelam langit, suhu dingin menusuk kulit dapat memastikan jika hari sudah malam. Tujuh orang lelaki tergeletak di atas tanah basah hutan, pingsan. Sesuatu berjalan dari gelapnya hutan, langkah kaki memicu gemersik dari tumbuhan-tumbuhan.

Seorang lelaki mengernyit merasakan hawa dingin yang seakan dapat membekukan dirinya seketika, langit gelap tidak wajar menjadi pemandangan pertamanya, pandangannya mencari bantuan ke sekeliling, hingga menemukan orang yang ia kenali.

“Hey!, Haikal, bangun!” ucapnya mengguncang tubuh lelaki yang berada di sebelahnya, suara gemersik dedaunan mengalihkan pandangan lelaki itu.

Sosok berkaki empat dengan tubuh besar, berekor panjang, berbulu putih besar, seperti singa namun terlihat lebih menyeramkan bagi manusia biasa. Lelaki tadi terdiam di tempat, kakinya seolah meleleh melihat sosok asing menyeramkan di hadapannya. Sosok itu mendekat dan memutari mereka bertujuh.

“Apa yang kau lakukan?” tanya satu-satunya lelaki yang sadar dengan terbata,

Sosok menyerupai singa itu menoleh ke sumber suara, yang ditatap menelan ludah gugup, “Salam kepada pemimpin muda Hexentrum!”

Lelaki tadi mengernyit bingung, ‘Apa maksudnya?, Hexentrum?, pemimpin?, kuliah saja belum lulus.’ Batinnya bertanya-tanya,

“Anda akan saya bawa kepada Yang Mulia Ratu.”

“Sebenarnya, ini ada dimana?”

Setiap jejak dari sosok itu berubah menjadi cahaya silau yang mengitari mereka. Seketika suasana berubah, langit gelap serta suhu dingin berubah menjadi tempat penuh gemerlap, tanah basah berubah menjadi lantai marmer putih bercorak khas kerajaan jaman dahulu.

“Selamat datang di Universe Kwangya.” Ucap sosok yang kini berubah menjadi manusia tinggi berjubah putih.

Enam bulan yang lalu, sebuah universitas negeri ternama mengirimkan mahasiswanya untuk mengabdi dalam kegiatan kuliah kerja nyata (KKN), salah satu kelompok mahasiswa yang berisikan 16 orang ditempatkan pada suatu desa yang ada di Yogyakarta.

Hari itu adalah hari dimana keenam belas mahasiswa KKN menyelesaikan pengabdiannya, mereka akan kembali ke daerah asal mereka yaitu di Jakarta dengan membagi beberapa kelompok. Tujuh orang lelaki dikumpulkan dalam satu kelompok, yang sialnya pada hari itu kendaraan yang mereka pakai harus dilarikan ke bengkel, dan mereka menunda untuk pulang.

Hari sudah malam kelompok lelaki yang beranggotakan lelaki bernama Marka, Rendra, Haikal, Jevan, Jessen, Chleo, dan Aji. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari bis malam agar mereka dapat sampai di Jakarta saat pagi nanti. Mereka pun mencari info mengenai bis malam Yogyakarta-Jakarta.

Pukul 10 malam mereka menemukan bis malam yang akan mereka naiki, 15 menit kemudian akhirnya mereka duduk nyaman berada di dalam bis yang mereka tumpangi.

“Setelah ini berarti kita tidak akan bertemu lagi?” seorang lelaki dengan kaus putih bertanya,

“Mungkin, kita akan sibuk dengan skripsi setelah ini, lagipula kita dari fakultas yang berbeda.” Sahut lelaki bernama Jessen yang diangguki oleh keenam orang lainnya,

“Semoga aja kita tidak lost contact.” Ucap lelaki putih bernama Chleo yang diamini dalam diam oleh yang lain.

Hari semakin larut, mereka pun mulai mengantuk hingga semua memutuskan untuk berkelana ke dunia mimpi masing-masing, tanpa tahu apa yang terjadi setelahnya.

Diatas lantai marmer putih dengan gemerlap lampu khas kerajaan, tujuh orang lelaki yang baru saja terdampar di dalam hutan kini sudah terbangun dengan perasaan linglung. Sosok lelaki tinggi berjubah putih mengawasi pergerakan mereka dalam diam, sorot tajam lelaki itu seakan dapat membelah badan dalam sekali tatap.

Marka dan Jessen yang bersebelahan saling menyikut memberi isyarat mengenai kejadian yag mereka hadapi kini. Baju keduanya basah dan kotor dengan tanah, mungkin itu salah satu akibat mereka terdampar di dalam hutan. Sementara itu Rendra, lelaki yang pertama kali bangun masih mencoba untuk mencerna apa yang terjadi saaat ini.

Sesaat kemudian, lelaki berjubah putih yang sedari tadi memerhatikan mereka berlutut seiring dengan derap langkah yang terdengar semakin mendekat. Ketujuh lelaki yang tidak tahu menahu itu menolehkan kepala mereka. Seorang perempuan dengan gaun hitam berjalan dengan anggun diikuti oleh banyak orang berpakaian prajurit.

“Hormat kepada Yang Mulia Ratu!” sahut lelaki berjubah,

“Ternyata dia ratunya.” Bisik Jessen yang diangguki oleh Marka,

Perempuan itu berjalan anggun mendekati sekumpulan lelaki dengan pakaian yang tidak bisa dibilang layak untuk bertemu keluarga kerajaan. Pandangan menelisik diterima oleh setiap lelaki itu, sebelum akhirnya perempuan yang disebut Yang Mulia Ratu itu menoleh pada lelaki berjubah putih.

“Dimana kau menemukan mereka, Theo?”

“Di daerah hutan terlarang dalam, Yang Mulia.”

Perempuan itu memutar tubuhnya menghadap kearah Rendra yang masih terdiam tanpa ekspresi, “Senang akhirnya dapat bertemu dengan pemimpin muda Hexentrum, Witch Rafael Aleander.” Ucapnya pada Rendra yang kini kebingungan,

“Kau berbicara padaku?” tanya Rendra polos, perempuan itu mengernyit tidak suka pada pertanyaan Rendra,

“Sepertinya anda terlalu lama berada di Hexentrum.” Ujarnya tegas, Rendra menghela napas tidak peduli,

Perhatian ratu teralih pada orang-orang yang berada di sebelah Rendra, “Ksatria utama, Peter Anderson, akhirnya anda kembali.” Ujarnya pada lelaki berkulit kecoklatan si mahasiswa fakultas teknik, Haikal.

Haikal yang disapa seperti itu hanya bisa menunjukkan raut wajah bingung namun tidak menanggapi, kemudian ratu kembali pada orang yang berada di sebelahnya, tanpa berkata perempuan itu memeluk lelaki bermata minimalis, Jevan, lelaki yang mendapat pelukan tiba-tiba itu terdiam dengan raut terkejut yang sangat ketara,

“Anakku!, akhirnya kembali!” sahutnya bersuka cita, “Dimana adikmu?, katakan dimana James?!, apa dia bersama denganmu?” tanyanya di tengah euforia yang dibuatnya,

Jessen memandang takjub perempuan yang sedari tadi mengoceh tidak jelas hingga ia mendapat pelukkan tiba-tiba dari perepuan itu, “Anakku, kedua anakku kembali, pangeran telah kembali!” ucapnya seraya mengeratkan pelukannya pada Jessen yang mengernyit tidak suka,

“Ah, maafkan saya terlalu bersuka cita, hormat saya kepada Tuan Markus Dartenoin, dan Grand Duke Charles Highkyson.” Ratu kembali menyapa dengan anggun Marka dan Chleo yang bersebelahan,

“Kau!, bagaimana bisa dia ada disini, Theo?!, kau pembunuh!, seharusnya kau membusuk berada di penjara bawah tanah saat ini!” tunjuknya pada Aji si mahasiswa dari fakultas hukum menampakkan raut wajah bingung dan tidak berdosa,

“Theo!, bawa dia ke penjara bawah tanah, percepat hukuman gantungnya!”

“Baik, Yang Mulia.” Lelaki berjubah yang dipanngil Theo itu menyeret Aji yang masih setengah sadar,

“Apa yang kau lakukan?!” tanya Rendra setengah berteriak, seluruh padangan tertuju pada mahasiswa kedokteran itu,

Ratu memandang penuh amarah Rendra, “Dia adalah seorang buronan.” Theo menjawab singkat,

“Jangan bawa dia!” sahut Jessen bernada perintah, ratu memandang Jessen tidak percaya,

“Dengarkan ibumu!, dia telah membunuh raja, ayahmu!, jangan dengarkan dia, bawa pembunuh itu ke penjara!” ujar ratu, lalu pergi dari hadapan semua orang diikuti oleh pengawalnya,

“Lepaskan!, lepaskan aku!, aku saja tidak mengenal raja, bagaimana bisa aku membunuhnya ?!” Aji memberontak,

“Diam dan menurut.” Theo menyeret Aji tidak manusiawi,

Keenam lelaki itu beranjak dari tempat mereka menahan sang lelaki berjubah, “Lepaskan dia.” Perintah Jevan,

“Yang Mulia Pangeran John, dia telah membunuh raja dan kabur saat hari penjatuhan hukuman.”

“Dia bukan buronan yang kalian cari, dan aku bukanlah pangeran.”

“Saya tidak peduli.” Ucapnya acuh lalu menyeret Aji yang sontak membuat keributan dari para teman-temannya.

Matahari mulai menampakkan sinarnya, kondisi saat ini masihlah kacau, keenam lelaki itu sudah berganti pakaian dengan pakaian yang sangat menyusahkan bagi mereka. Aji, teman mereka yang paling polos malam itu benar-benar diseret pada sebuah penjara gelap yang terletak di ruang bawah tanah istana. Setidaknya keenam teman-temannya masih bebas di luar sana dan kemungkinan besar dapat membantu Aji keluar dengan statusnya.

Jevan dan Jessen dahulu mereka sering sekali dikira anak kembar oleh banyak mahasiswa, padahal mereka berdua baru berkenalan saat KKN mengingat fakultas keduanya yang terletak berlawanan arah. Kini, keduanya benar-benar anak kembar dengan status seorang pangeran, John dan James Abelion itu nama mereka, sejak semalam mereka tinggal di istana megah itu.

Rendra Ezrian, mahasiswa berprestasi pada tahun ini, ia berada di fakultas kedokteran, namanya selalu saja menjadi sorotan tapi, siapa sangka nasib tidak berpihak baik padanya sekarang. Malam itu ia langsung diantar pada sebuah menara tinggi yang memiliki kesan dingin menyeramkan, Rendra akhirnya mengerti bahwa dirinya adalah seorang keturunan penyihir seperti yang dikatakan Theo dan ratu saat itu, ia adalah pemimpin muda dari tempat bernama Hexentrum dan memiliki nama Rafael Aleander.

Marka Adinata, ketua BEM Fakultas Kedokteran, berteman baik dengan Rendra, ia tidak menyangka jika statusnya adalah seorang panglima perang yang menyandang nama Markus Dartenoin. Semalam ia diantar ke sebuah bangunan klasik yang ternyata adalah gedung pertahanan, ia tidak sendiri karena Haikal Candrawa lelaki berkulit coklat itu adalah seorang ksatria bernama Peter Anderson, dan mereka harus tinggal di dalam satu tempat yang sama, mungkin itu patut disyukuri.

Chleodino Aksara, seorang mahasiswa fakultas ekonomi bisnis yang selalu bernasib baik, bahkan sampai saat ini nasib masih berpihak padanya, ia adalah seorang bangsawan kelas atas dengan gelar Grand Duke yang memiliki kedudukan dibawah keluarga kerajaan, Charles Highkyson adalah namanya saat ini.

Jika ada gelar manusia paling benasib buruk maka itu tersemat pada Ajidra Prawara, sedari dulu ia tidak pernah mencolok hanya menyandang status sebagai mahasiswa fakultas hukum biasa tapi, kini nasibnya tidak berubah mungkin lebih buruk. Setiap sudut negara mengenal namanya, Andy Chamles si buronan pembunuh raja.

Lapangan luas yang berada di belakang istana menjadi tempat pertemuan keenam lelaki yang memiliki status baru saat ini. Para pelayan memberikan jamuan untuk mereka, Jevan dan Jessen yang terlebih dahulu datang karena tempat itu masih berada dalam lingkup istana, disusul oleh Marka dan Haikal yang beasal dari tempat yang sama, lalu Chleo yang datang bersama pengawalnya, mereka hanya tinggal menunggu Rendra si penyihir.

Seorang lelaki dengan jubah hitam dengan bordir benang hijau mewah menjejakkan kaki mendekat. Rendra menyapa kelima rekan KKNnya, ia membuka tudung dari jubah hitam yang dikenakannya.

“Jadi, kupikir kita sudah tahu status masing-masing saat ini.” Marka membuka percakapan,

“Ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi pada kita?” tanya Chleo,

Rendra meletakkan cangkir tehnya, “Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kita, yang jelas sekarang kita berada di dunia lain bernama Universe Kwangya, dan kita berada di dalam kerajaan Cosmo, perempuan yang kemarin disebut ratu itu adalah Queen Jessica Abelion, ibu Jevan dan Jessen, lalu ayah kalian King Giordaniii Abelion baru saja meninggal karena alasan yang tidak jelas banyak orang yang berspekulasi jika ia dibunuh oleh Andy Chamles yang merupakan orang kepercayaan raja.”

“Jadi Aji adalah Andy?” Rendra mengangguk membenarkan,

“Jadi kita berada di dunia atau dimensi lain?” kembli Rendra mengangguk,

Jessen menghela napas, “Kau tinggal dimana sekarang, Rendra?”

“Sebuah menara penyihir yang terisolir dari manusia, mereka menyebutnya Hexentrum.”

“Jadi, kau benar-benar seorang penyihir?” Rendra mengendikkan bahu, yang seorang penyihir adalah Rafael bukan dirinya,

“Ah aku dengar dari para prajurit kerajaan, Aji akan diekskusi lusa nanti dengan hukuman gantung, itupun jika mereka tidak kembali mengkaji kasus pelariannya, mungkin saja hukumannya akan menjadi hukum penggal.” Semua sontak meraba leher masing-masing setelah mendengar penuturan Haikal,

“Kita harus kembali secepatnya sebelum Aji dihukum.” Sahut Chleo, kelima lelaki lainnya mengangguk setuju.

Marka membaca buku yang dibawa oleh Rendra, meskipun bahasa yang digunakan cukup aneh tapi, lebih aneh lagi ketika mereka semua dapat mengerti dengan bahasa itu terbukti dengan Rendra yang dapat membaca beberapa buku dalam semalam, serta Jevan dan Jessen yang dapat menjalankan tugas sebagai pangeran tanpa kesalahan fatal, mereka seakan familiar dengan semua ini walaupun lingkungannya sangat asing.

“Kenapa kerajaan ini dinamai Cosmo?” tanya Marka tiba-tiba,

Rendra mengernyit sebelum membuka suara, “Dari buku sejarah yang kubaca semalam, kerajaan ini termasuk kerajaan magis karena setiap warganya memiliki kekuatan unik yang disebut cosmo soul, bentuknya menyerupai hewan dan memiliki ciri khas.”

“Jadi seharusnya kita semua memiliki itu?, termasuk Aji?” tanya Haikal yang diangguki benar,

“Aku seperti pernah mendengar cosmo soul itu.” Jessen mengernyit membuka memori pendeknya,

Jevan yang berada di sebelahnya menepuk lutut Jessen, “Ratu memiliki cosmo soul yang dijadikan hewan istana, kalau tidak salah berbentuk ular hitam disebutnya, black mamba.”

Rendra mengernyit, “Black mamba adalah cosmo soul milik ratu?, hewan itu justru termasuk hewan terlarang yang dijaga ketat oleh pimpinan Hexentrum di perbatasan Kwangya.”

Mereka saling menatap bingung, “Seharusnya keluarga kerajaan memiliki cosmo soul berupa hewan legendaris semacam pheonix, itu ada di buku ini.” Ujar Marka,

Haikal menepuk tangannya, “Bagaimana jika kita mencari cosmo soul milik kita?, siapa tahu nanti akan berguna.” Ucapan ksatria itu diangguki setuju oleh yang lainnya,

“Bagaimana caranya?” tanya Chleo, semua menatap Rendra yang masih berpikir mengenai kontradiksi cosmo soul milik ratu, pemuda itu tersentak kala Jessen menepuk pundaknya, ia menggeleng tanda tidak tahu, lagipula ia belum membaca semua buku yang berada di Hexentrum.

Panas dari matahari semakin terasa, hari mulai menjadi siang, enam lelaki itu baru saja menuntaskan makan siang dengan hidangan istimewa sebagai tamu undangan pangeran. Setelahnya mereka kembali pada titik temu yaitu lapangan luas yang bersebelahan dengan ruang pertemuan khusus istana.

Chleo berjalan dengan tenang menyusuri setiap sudut dari lapangan, banyak sekali tempat indah di kerajaan bernama Cosmo ini, bahkan istana ini saja ada banyak hal yang dapat di lihat. Hari ini, Chleo sudah berjalan ke 3 bagian dari kerajaan, gelar sebagai grand duke membuatnya lebih cepat melihat situasi dari luar istana, tidak seperti Jevan, Jessen, Marka, dan Haikal yang merupakan orang-orang istana.

Pandangan dari mata bulat tajam itu menyipit kala melihat sesuatu mendekat ke arah tempatnya berdiri, sepertinya Chleo sudah lumayan jauh dari tempat berkumpul teman-temannya, ia melihat seekor ular hitam dengan besar yang tidak lazim semakin medekat, panik itu yang ia rasakan, kakinya tidak ingin bergerak seperti terpaku di rumput.

“Apa itu?!” pekiknya ketika hewan tersebut mendekat, bersyukurlah dengan suara pekikan darinya dapat terdengar oleh yang lain, segera setelah mendengarnya kelima lelaki yang sedang berbincang langsung beranjak.

“Itu yang tadi kubilang, black mamba.” Ungkap Jevan, semua melihat ke arah hewan melata berwarna hitam itu,

Rendra meneliti hewan tidak lazim itu dengan seksama, ia merasa ada yang tidak beres disini, bola mata coklatnya seakan terhanyut dengan pikiran dan objek yang ia lihat, tanpa sadar hewan itu mendekat dan melilitkan tubuh panjangnya pada tubuh sang penyihir.

“Rendra!” teriak Haikal menyadarkan Rendra yang sudah siap ditelan oleh ular hitam besar di hadapannya, semua membolakan mata melihat pemandangan mengerikan yang terjadi secara nyata di depan mereka.

Rendra memandang tajam black mamba tepat di mata hewan itu, perlahan lilitannya pada tubuh Rendra terlepas, dengan tenang Rendra kembali pada teman-temannya dan menggiring kelimanya untuk pergi dari tempat itu, perasaannya benar, ada yang tidak beres di istana ini.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Marka yang langsung diangguki yakin oleh Rendra, semua menghela napas lega,

“Jadi bagaimana?” Jessen melirik semua temannya,

Chleo bersandar pada kursi yang didudukinya, “Kita harus pergi dari sini dan menyelamatkan Aji, bagaimana jika kita mulai dari Rendra?, seorang penyihir pasti memilki kekuatan magis bukan?”

“Benar juga, apalagi kau pemimpin muda dari Hexan-Hexen ya, apapun itu.” Imbuh Haikal,

Rendra menghela napas jengah, “Hexentrum tapi, aku tidak bisa melakukan apapun meski titleku adalah penyihir, lihatlah tidak ter-”

‘Wushh!’ api muncul dari jentikkan jari yang dilakukan dengan sengaja oleh Rendra, tidak hanya penyihir itu yang kaget tapi, semua temannya pun kaget,

“Itu benar api?” tanya Jevan masih tidak percaya,

Rendra terdiam melihat jentikan jarinya yang mengeluarkan api, “Coba kau sentuh, jika panas dan terasa terbakar berarti itu api.” Ucapnya sebagai jawaban, Jevan menatap datar sang kawan yang sedang berusaha mematikan api pada kedua belah jarinya. Setelah melihat kekuatan Rendra sang penyihir, akhirnya mereka percaya jika mereka pasti memiliki cosmo soul tersendiri.

Siang perlahan berganti menjadi petang, lapangan yang berada di belakang istana masih ramai dengan enam orang lelaki yang sedang mencari cosmo soul milik mereka, tanpa sadar sedari tadi diperhatikan oleh seseorang dari jarak yang cukup jauh.

“Mereka mirip sepertimu, hanya bedanya mereka akan kembali dan kau tidak bisa kembali.” Seorang perempuan tiba-tiba berada di sebelah lelaki yang sedang menatap lurus sekelompok orang di lapangan,

“Aku hanya ingin tahu apa mereka bisa kembali dan menyelamatkan temannya itu, Doyie.”

“Bagaimana bisa?, jika dirimulah kunci mereka untuk kembali.” Lelaki itu berdecak kala perempuan yang berada di sampingnya sudah menghilang setelah menyatakan hal yang membuat lelaki itu kesal, ‘Dasar penyihir.’ Batinnya seraya berbalik meninggalkan tempatnya.

Hari mulai berganti, sinar mentari pagi menerobos dari jendela kecil Hexentrum, sang penghuni masih sibuk berkutat dengan buku-buku yang ada berserakan di dalam ruangan pengap itu. Sebuah buku yang lebih mirip album foto menjadi perhatian bagi Rendra si lelaki yang menjadi penyihir, matanya meniti setiap huruf dalam buku tersebut.

‘Tales of Hexentrum.’ Judul buku tersebut ditulis dengan tinta berwarna metalik yang dapat menyala secara ajaib, lembar pertama mengisahkan mengenai pembagian wilayah dari Kwangya, tertulis bahwa kerajaan Cosmo memiliki tetangga yaitu Negeri Neozone, perbatasan kedua wilayah tersebut dijaga oleh salah satu keturunan penyihir, yaitu kakak dari Rafael Aleander.

“Doyie Aleander?” gumam Rendra pelan,

“Wah!, senang sekali dapat kemari saat seseorang memikirkan diriku.” Suara seorang perempuan membuat Rendra berjengit kaget dari tempat berdirinya, setahunya Hexentrum dilindungi oleh sihir yang membuat manusia biasa tidak bisa memasukinya,

“Kau siapa?” tanya Rendra pada seorang perempuan dengan gaun berwarna putih dengan beberapa bercak darah,

“Kau melupakan kakakmu?!, dasar adik durhaka!” pekik perempuan itu nyaring membuat Rendra tercengang,

‘Jadi dia adalah Doyie Aleander?, tak kusangka seorang perempuan.’ Ucap Rendra dalam hati sembari menelisik perempuan yang mengaku sebagai ‘kakak’ dari Rafael si penyihir,

“Kau pasti sudah tahu apa yang terjadi di istana bukan?, dua bulan yang lalu kementrian sihir pusat mengatakan keturunan black mamba akan lahir, sangat berbahaya.” Ujar perempuan itu,

Rendra paham kemana arah pembicaraan perempuan ini, dan mungkin sekarang ia harus bermain peran menjadi seorang adik yang baik, “Itu sebabnya kakak ada disini?” tanyanya,

“Aku disini karena kau memikirkanku, Rafael.” Jawabnya gemas,

Rendra terkikik baru kali ini ia merasakan punya saudara, “Lalu apa yang harus dilakukan?”

“Kembalilah sebelum eksekusi temanmu agar kalian bisa kembali.” Rendra tertegun sejenak,

“Kau mengetahuinya?” perempuan itu tertawa puas sembari bertepuk tangan,

“Tentu saja, tidak mungkin aku tidak bisa mengenali aura cosmo milik adikku sendiri, walaupun wajah kalian sama, kau bukanlah Rafael jadi, kenalkan namaku Doyie Aleander, kuharap kalian bisa kembali.” Ucapnya diakhir kalimat melirih, membuat Rendra sedikit mengernyit,

“Kau akan membantu kami?” tanya Rendra, Doyie si penyihir perempuan hanya mengangkat kedua bahunya,

“Kalian bisa melakukan itu tanpa bantuanku tapi, Theo dapat membantu kalian, berhati-hatilah karena ratu adalah pengguna sihir telarang, sampai jumpa!” Doyie pun menghilang ditelan oleh cahaya, meninggalkan seekor kupu-kupu cahaya yang kini terbang di dalam menara, Rendra memikirkan ucapan Doyie sebelum akhirnya menghela napas, sepertinya dia harus mencari Theo nanti.

Pengap, dingin, dan mencekam, lorong panjang dengan penerangan lentra di setiap sisi menjadi pemandangan untuk jalan menuju penjara bawah tanah. Hari esok adalah hari terakhir Aji sebelum akhirnya bertemu dengan takdir yang akan membawa dirinya di dunia aneh ini.

Aji menatap tembok gelap di dalam jeruji tahanannya, sesial apapun hidupnya dahulu ia tidak pernah hingga mendekam di penjara barang sehari tapi, lihatlah disini ia menjadi seorang buronan dengan status pembunuh raja, dosa apa yang pernah ia lakukan sebelumnya. Semalaman Aji tidak pernah bisa tertidur, memikirkan apakah teman-teman KKNnya mau menyelamatkannya atau tidak.

Di tengah lamunan kosong Aji, jeruji terbuka, menampakkan empat orang dengan pakaian khas kerajaan. Aji menoleh lalu membolakan matanya saat melihat Jevan, Jessen, Marka, dan Haikal. ‘Mereka masih mengingatku!’ pekik riang dalam hati Aji.

“Apa kamu diperlakukan secara manusiawi disini?” tanya Jessen membuka percakapan,

Aji terdiam, tidak menggeleng ataupun mengangguk, “Aku seperti menunggu ajal.” Ucapnya,

Marka terdiam menatap ruang sempit yang ditempati oleh Aji, hanya sisa besok sebelum hari eksekusi teman tak bersalahnya ini, “Kami akan melakukan apa yang kami bisa, tunggu saja.”

Aji mengangguk lesu, “Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku tidak mengerti kita ada dimana sekarang, bukankah seharusnya kita sudah berada di kampus saat ini?” ujar Aji lirih,

Haikal menepuk pelan punggung pemuda yang lebih muda darinya itu sembari perlahan ia menceritakan apa saja yang sudah ditemukan oleh mereka di istana kemarin, tidak lupa ia juga menjelaskan status mereka saat ini.

Kaget?, tentu saja, siapa yang menyangka jika bis malam yang ditumpangi olehnya akan membawa Aji hingga ke dunia lain bernama Kwangya, tidak pernah ia berpikir untuk keluar negeri tapi, saat ini ia dikeluarkan dari dunia aslinya. Haikal bercerita jika saat ini Chleo dan Rendra sedang mencoba untuk meneliti sesuatu di luar istana, itu sebabnya empat orang laki-laki ini bertugas untuk melihat bagaimana keadaan Aji selain itu hanya mereka juga yang memiliki akses untuk masuk ke dalam pernjara bawah tanah. Cerita demi cerita terus bergulir untuk mengejar ketertinggalan informasi yang dimiliki oleh Aji, tidak lupa mereka meminta Aji untuk mencari tahu cosmo soul miliknya sendiri. Tidak terasa waktu mereka habis untuk berkunjung dan mereka berjanji untuk secepatnya mencari jalan keluar dari masalah tidak masuk akal ini.

Pagi-pagi buta tadi, sebelum kabut naik, seorang pengawal dari kerajaan mendatangi Hexentrum dengan seekor kuda putih sebagai tunggangan. Pengawal itu mencari Rendra untuk mengabarkan apa yang terjadi pada tuannya pagi ini. Istana gempar dengan kehadiran dua mahluk secara tiba-tiba yang berada di depan kamar pangeran, John dan James atau Jevan dan Jessen.

Rendra menelisik dengan mata coklatnya dua mahluk legendaris yang berada di hadapannya saat ini, tepat setelah pengawal kerajaan menjemputnya ia langsung dihadapkan dengan kasus seperti ini. Seekor kuda gagah berwarna putih bersayap dan bersurai panjang seolah menjadi penjaga di depan kamar Jessen, mahluk itu bernama Pegasus, sekali lihat Rendra sudah dapat mengenalinya.

“Pegasus, dia wujud dari cosmo soul milikmu yang dikeluarkan semalam.” Ucap Rendra sembari menghentikan kegiatan menelisiknya, Jessen membola saat mengetahui cosmo soul miliknya adalah seekor kuda bernama Pegasus.

Setelah itu, seekor burung berwarna merah terbang mengitari langit-langit istana, bulunya panjang terkesan kuat dan menawan secara bersamaan, ukurannya sangat besar dibandingkan dengan burung gereja yang sering Rendra temui di depan gedung rektorat, Pheonix nama berani untuk burung merah itu.

“Return of Pheonix Soul?, cosmo soulmu, tidak perlu kujelaskan kau pasti sudah paham.” Tutur Rendra pada Jevan yang berdiri melihat burung merah itu terbang,

“Selanjutnya, apa yang dapat dilakukan cosmo soul?” tanya Jessen,

Rendra mengendikkan bahunya, “Menurut buku, dia bisa membantu kalian, menjaga, dan terkonesi secara batin terhadap kalian, dia juga dapat memberimu kekuatan magis sesuai dengan bentuk mereka.”

Jevan dan Jessen mengangguk, “Mereka tidak bisa hilang?”

“Jika kalian menyuruhnya hilang, maka mereka akan hilang.” Jawab Rendra,

Benar saja, seketika kedua mahluk itu menghilang setelah Jevan dan Jessen memberi perintah, kedua pangeran itu memandang Rendra yang masih setengah mengantuk sedang bersandar pada pilar istana.

“Apa yang kita lakukan hari ini?” pertanyaan Jevan mengintrupsi kantuk Rendra,

“Aku harap kalian dengan Marka dan Haikal dapat memberikan informasi pada Aji hari ini, aku dan Chleo akan mencari tahu tentang suatu hal.” Ujar Rendra sembari menatap keduanya,

“Kau yakin kita bisa kembali?” tanya Jessen, Rendra mengangkat bahunya dalam hatinya ia sendiri tidak yakin apa mereka dapat kembali lagi ke dalam dunia mereka,

“Entah tapi, lebih baik untuk dicoba. Aku akan pulang!” Rendra melambaikan tangan menjauh dari keduanya hingga akhirnya menghilang dari balik pilar-pilar istana. Jevan dan Jessen hanya dapat berharap jika apa yang dilakukan mereka bisa membuat mereka kembali.

Pusat kota di kerajaan Cosmo terasa sangat ramai, menurut Chleo yang sudah akrab dengan lingkungan luar istana hal ini terasa tidak jauh berbeda dengan Jakarta namun dengan versi ajaib. Siang hari yang lumayan terik diisi oleh Rendra dan Chleo yang berkeliling mencari lelaki berjubah putih yang menemukan mereka pertama kali.

Rendra benar-benar ingin bertanya mengenai banyak hal pada pria bernama Theo itu, terutama mengenai keturunan black mamba yang ternyata ada di dalam istana. Jika saja tidak ingat dengan Chleo yang berjalan bersamanya, Rendra bisa saja melakukan teleportasi, lelaki itu sudah mencobanya untuk berpindah-pindah ke berbagai tempat sebelum bertemu dengan Chleo dan sejauh percobaannya itu ia berhasil melakukannya.

“Kurasa dia bukan orang biasa yang berkeliaran disini, Ren.” Intrupsi Chleo, Rendra diam-diam mengiyakan dalam hati, sepertinya Theo bukan mahluk biasa seperti mereka,

“Lagipula kenapa kita harus mencarinya?” tanya Chleo heran,

“Penyihir itu, Doyie Aleander, dia bilang Theo dapat membantu kita.” Ucap Rendra, sementara itu Chleo mengernyit tidak kenal dengan nama penyihir yang disebutkan oleh temannya namun ia berusaha untuk tidak bertanya.

Rendra menjentikkan jarinya mendapatkan sebuah ide, “Doyie Aleander, jika begitu seharusnya kau ada disini bukan ?” ucapnya sedikit tidak yakin,

“Sepertinya kau gemar sekali memanggilku sedari tadi.” Chleo hampir saja terjengkang karena kaget melihat seorang perempuan tinggi bergaun putih dengan corak bunga matahari kecil,

“Kau tahu dimana Theo?” tanya Rendra menuntut,

Doyie berdecak kesal, “On point sekali, sepertinya kau harus melihat apa yang terjadi di istana, young witch.” Selesai dengan ucapannya seperti biasa perempuan itu menghilang dalam sekejap yang mana membuat Chleo lagi-lagi terkejut.

Rendra membulatkan matanya lalu menoleh melihat Chleo yang sepertinya masih terkejut, “Apapun caranya, kau harus ke istana secepatnya, oke?” ujarnya buru-buru,

“Lalu kau?” Rendra tersenyum lalu menghilang dan menyisakan Chleo yang tersentak kebingungan di tempatnya.

Segerombolan prajurit istana berlari memasuki ruangan milik Marka. Pintu ruangan yang diketuk tidak sabaran membuat Marka dan Haikal langsung membukanya, tanpa basa-basi seorang prajurit mengabarkan jika istana bagian barat di serang, bahkan istana sudah porak poranda dengan api yang menyala-nyala. Marka keluar dari ruangannya diikuti oleh Haikal yang berada di belakangnya.

Bagian barat istana adalah tempat pertemuan, bahkan ruang kerja milik pangeran berada disana. api merah menyala seakan menari-nari dari keseluruhan gedung berwarna putih, banyak orang yang berusaha untuk memadamkan api tersebut agar tidak menyebar ke gedung utama.

Marka dan Haikal terperangah melihat situasi yang terjadi saat ini, mereka mengkhawatirkan Jevan dan Jessen yang kemungkinan besar berada di dalam sana. Saat hendak bertanya disela memberi komando, Marka dikejutkan dengan kedatangan Rendra yang tiba-tiba, lelaki itu memandang sekitar lalu berlari mendekati api, orang-orang menyorakinya untuk menjauh dari tempat.

“Apa yang kau lakukan?” tanya lelaki berjubah putih yang berada di hadapan Rendra,

Rendra menyeringai, “Kau pasti tahu apa yang terjadi saat ini, apa yang terjadi pada Jevan dan Jessen?” tanyanya,

Theo si lelaki berjubah mendengus, “Kau pikir siapa menimbulkan kebakaran?” Rendra mengerjap sebelum akhirnya paham, cosmo soul milik Jevan adalah seekor burung api dan tidak menutup kemungkinan sebelum ini terjadi kedua lelaki itu berada dalam masalah,

Pandangan Rendra terlempar pada jejak api di pelantaran gedung, lendir berwarna hitam yang sangat pekat dan aneh keluar dari bekas pembakaran, “Jevan dan Jessen dalam masalah!” ucapnya sembari menghampiri Marka dan Haikal lalu menjelaskan keadaan secara singkat.

Di sisi lain, Jevan dan Jessen berada di dalam ruang bawah tanah yang terhubung di pada penjara bawah tanah. Beberapa saat yang lalu black mamba menakuti seisi gedung bagian barat, membunuh banyak orang hingga akhirnya mahluk melata itu sampai pada ruangan keduanya, entah darimana Pheonix milik Jevan keluar dan membuat api yang sangat besar, Jevan yakin jika gedung itu sekarang sudah hangus.

Mereka berdua fokus mencari Aji, sepertinya saat ini mereka harus benar-benar mencoba keluar dari Kwangya, keadaan sangat tidak tenang untuk mereka. Sesampainya disana mereka bertepatan dengan sang ratu yang tersenyum lebar melihat mereka berdua, Jevan dan Jessen bergidik saat mengetahui black mamba berada di sebelah ratu, Aji yang berada di selnya meringkuk ketakutan melihat ketiga orang itu.

“Kupikir, penyihir Hexentrum itu sudah memberitahu kalian.” Ucap ratu merendahkan,

“Apa maksudmu?” tanya Jessen emosi, ratu tertawa nyaring khas penjahat,

“Terimakasih karena sudah membuat alibi untukku, aku akan membuat kalian merasakan keabadian.” Ujarnya sebelum black mamba berhasil melilit penuh tubuh Aji,

“Akhhh!, tolong!” Aji merintih kesakitan kala tubuhnya akan remuk, rintihannya diiringi oleh tawa kemenangan dari sang ratu.

Api menjalar dari ujung lorong , Jevan marah besar hingga cosmo soul miliknya mengeluarkan sihir, black mamba mengendurkan lilitannya hingga Aji terjatuh yang langsung ditolong oleh Pegasus milik Jessen.

“Jevan, kau akan membuat kita tidak bisa kembali!” teriakan Rendra menyadarkan Jevan pada kondisi sekitarnya, sementara itu ratu dan cosmo soulnya sudah menghilang menggunakan sihir terlarang,

Rendra mendekati keduanya di tengah kobaran api yang sebentar lagi akan membumi hanguskan istana, “Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak.” Rendra menggenggam tangan Jevan dan Jessen hingga membentuk lingkaran pikirannya terpusat untuk melakukan teleportasi dengan membawa orang, dan berhasil mereka berada di halama istana.

Chleo membolakan matanya saat melihat banyak sekali black mamba yang berkeliaran di pusat kota, ular hitam itu memakan manusia dengan ganasnya dan jumlah mereka seakan tidak pernah habis. Beberapa orang berlarian karena takut termasuk dengan dirinya yang berusaha untuk menjangkau istana sesuai dengan instruksi dari Rendra sebelumnya.

“Akhh!” pekik Chleo kala melihat kakinya penuh oleh lendir hitam,

“Ayo kita harus mengakhiri ini.” Marka datang bersama dengan Haikal menolong Chleo untuk naik pada seekor singa putih yakni cosmo soul milik Marka.

Mereka bertiga menjauh dari kerumunan hingga sampai pada istana. Ketiganya bertemu dengan Jevan, Jessen, Rendra, dan Aji yang sudah lebih dulu sampai disana. Keadaan di dalam dan di luar istana benar-benar kacau, kerajaan Cosmo akan berakhir karena ini.

“Kita harus kembali.” Ucap Jessen yang diangguki setuju,

Pandangan Rendra mengedar mencari seseorang yang ditunggunya, “Theo!”

“Aku menitipkan kunci kalian untuk pulang pada Doyie, dia akan membantu.” Theo berucap dingin,

“Bagaimana denganmu?” tanya Rendra, Theo menunjuk istana yang porak poranda, “Aku harus menyelesaikannya.”

“Kau tidak akan bisa kembali.” Rendra berucap lirih, Theo menggeleng, “Aku memang tidak berniat kembali. Pergilah ke tempat awal kalian datang.” Ujar lelaki itu sembari berjalan menjauh dari ketujuhnya.

Rendra menyuruh yang lain untuk saling berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Seperti yang dilakukan sebelumnya, ia harus membawa mereka semua berpindah tempat, kali ini mereka harus ke tempat dimana mereka ditemukan. Hutan terlarang dalam menjadi tempat mereka berpijak sekarang. Rendra menghela napasnya lelah lalu mencoba untuk memanggil Doyie si penyihir.

“Apa bisa dipercepat?!”

“Mereka ada disini!”

“Jumlah mereka banyak sekali!”

Sekeliling mereka penuh dengan black mamba, Rendra semakin tidak fokus hingga berkali-kali telepati pada Doyie gagal, ia takut tidak bisa membawa mereka semua kembali.

“Wah!, mereka banyak sekali.” Seorang perempuan muncul tiba-tiba,

“Doyie!” pekik Rendra hampir menangis,

“Tenanglah adikku. Kau tahu kenapa mereka hewan terlarang?, karena mereka tidak bisa mati.” Semua terkejut dengan penuturan Doyie,

“Aku akan menghalangi mereka hingga kalian selesai.” Ujarnya,

“Kau akan baik-baik saja?” Doyie tersenyum sebentar lalu mengangguk, “Akan aku usahakan.”

Doyie memberikan setangkai bunga mawar berwarna merah darah pada Rendra, yang diberi mengernyit bingung,

“Theo memberinya padaku, bakar itu dengan sihirmu, dan kalian akan kembali, percaya padaku, aku akan menjaga kalian.” Black mamba semakin mendekat kearah mereka,

Rendra mengangguk “Berhati-hatilah.” Ucapnya pada Doyie yang dibalas anggukan singkat.

Semua membuat lingkaran sesuai arahan Rendra sedangkan Doyie menghalau pergerakan dari black mamba, Rendra menoleh sebentar sebelum akhirnya sihir api miliknya membakar tangkai bunga mawar yang ia pegang, api yang menjalar menuju kelopak bunga dapat dirasakan olehnya, hingga sesuatu yang amat terang seakan menghisap mereka bertujuh.

Gelap dan sunyi. Mata-mata tertutup itu perlahan membuka, semilir angin malam membuat mereka tahu jika sedang berada di tengah lapangan kampus, mereka langsung terduduk lemas mengingat semua yang terjadi.

“Semua selesai?” tanya Aji lirih, yang lain mengangguk ragu,

“Syukurlah.” Ucap Haikal lega,

Rendra masih menyesuaikan napasnya, “Apa yang akan terjadi pada mereka?” lirihnya,

Marka menggeleng, “Aku rasa kerajaan itu akan hancur.” Ujarnya,

Mereka semua saling menatap lalu akhirnya menghela napas bersama, semua terasa berat dan itu mereka alami secara nyata, “Orang lain tidak akan percaya.” Ucap Haikal yang diangguki oleh semuanya. Biarlah hanya mereka yang mengetahui kisah ini, biarlah mereka saja yang tahu jika Kwangya itu ada.

Fin.

Komentar